KENAPA HARUS SOEHARTO? Sebuah Keprihatinan Generasi 21….

Tuesday, June 24, 2008

(Bagian 2)
Oleh: Zaim Mukaffi*
Richard Webb, mantan diplomat Inggris yang pernah bertugas di Indonesia pada 1998-2001, mengatakan, “…Kalau bukan karena Pak Soeharto, Indonesia tak akan menjadi seperti sekarang ini atau tidak akan memiliki infrastruktur seperti yang ada sekarang…Ia sudah meninggalkan warisan peninggalan yang sangat luar biasa bagi Indonesia dan bagi rakyatnya…”.


Pernah ingat juga Margareth Teacher Perdana Menteri Inggris pernah memuji setinggi langit keberhasilan Jenderal besar Soeharto Di dalam bukunya The Downing Street Years bahkan secara terbuka Dia mengatakan bahwa Soeharto adalah seorang pemimpin pekerja keras dan efektif, yang menyatukan Indonesia dengan tingkat perekonomian yang tumbuh pesat dan kondisi keuangan yang cukup baik. “Walaupun terjadi pelanggaran HAM di situ terutama di Timor Timur, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berjalan lancar dalam ukuran kriteria umum. …Saya terkesan…sesuatu yang sangat jarang ditemukan pada pemimpin negara yang kaya raya akan minyak seperti Indonesia.”. belum lagi banyak pemimpin Negara-negara lain yang senada dengan kedua tokoh tersebut.
Seperti halnya Soekarno, Soeharto adalah legenda bangsa ini yang tak habis dikunyah, baik karena jasa-jasanya maupun sejumlah kesalahannya. Dialah Presiden RI yang secara dramatis mengubah tingkat kesejahteraan sebagian besar penduduk Indonesia hingga ke taraf yang disegani di dunia, dari titik ekonomi yang mungkin paling mustahil dibayangkan pakar ekonomi manapun, inflasi yang mencapai 600 persen, harga beras naik 900 persen dan anggaran negara mengalami defisit 300 persen. Mungkin karena itu Soeharto kemudian banyak diakui sebagai pemimpin bangsa yang luar biasa, justru oleh banyak petinggi asing.
Faktanya Soeharto memang telah sanggup meningkatkan kesejahteraan ekonomi bangsanya. Di masa pemerintahannya, Indonesia adalah negara yang berhasil melakukan swasembada beras – sekitar tahun 80an- dan tak pernah kekurangan bahan pangan yang murah seperti yang kemudian dialami pada saat ini. Pendidikan, kesehatan, dan perumahan menjadi sesuatu yang sangat umum yang bisa dinikmati masyarakat secara mudah, melalui program wajib belajar, Puskesmas, Perumnas dan sebagainya.Dia juga yang membawa Indonesia menjadi bangsa yang disegani secara politik, ekonomi, dan pertahanan di tingkat regional hingga internasional. Sebagian besar negara Barat bahkan memujinya sebagai orang yang berjasa dan sanggup bekerja, meski kemudian negara-negara Barat itu jugalah yang ikut berperan memerosokkan Soeharto ke tubir kejatuhan.
Tapi anehnya, anak bangsa sendiri yang selama ini menikmati jasa besar beliau menghujat dan memaki nya tanpa henti dan bahkan menyalahkan sosok pemimpin besar seperti beliau, dan yang lebih tragis adalah orang-orang yang selama ini sangat dekat dan bahkan –ketika beliau masih hidup- memuji setinggi langit, mengolok-olok dan memprovokasi terhadap beliau selama ini. Sebuah keprihatinan yang luar biasa….???? Tentu….!!!
Namun jasa-jasa Soeharto lalu dianggap tak ada oleh sebagian orang, terutama mereka yang secara langsung merasakan bagaimana tindakan represif orde baru memperlakukan orang. Penumpasan PKI yang dinilai menelan korban ratusan ribu orang bahkan ada yang menyebut jutaan orang, perampasan hak orang untuk bersuara dan berpendapat, penghilangan paksa orang-orang yang bersuara kritis, pendekatan militer yang keras, maraknya korupsi dan sebagainya adalah sejumlah dosa yang dinilai harus dipertanggungjawabkan oleh Jenderal Soeharto, secara pribadi. Sebagian orang itu bahkan menganggap, tindakan represif yang dilakukan oleh Soeharto adalah sesuatu hal yang tak bisa dimaafkan begitu saja.
Sekarang Soeharto sudah pergi jauh dan meninggalkan kita semua selamanya….meninggalkan sebuah misteri yang sulit ditemukan pangkal ujungnya dan mungkin tidak akan ada penyelesaian. Apapun pendapat tentang Soeharto, kiranya perlu kita merenungkan kembali dan berfikir jernih. Tentunya, kita sebagai generasi sekarang atau bahkan mendatang –yang istilah saya adalah generasi 21- jangan di ceko’I oleh cerita bahkan sejarah palsu tentang pemimpin bangsa ini, jangan sampai generasi mendatang selalu mendengar dan membaca sejarah yang kotor tentang pemimpinnya, yang berakibat pada ketidak-hormatan dan keidak menghargai pada pemimpinnya. Akankah cerita tentang Soekarno akan terulang kepada Soeharto atau mungkin kepada pemimpin bangsa selanjutnya? Jangan sampai Habibi terjerat kasus lepasnya Timtim, Abdurrahman Wahid dengan kasus Buloggate, Megawati kasus Privatisasi dan bahkan SBY kenaikan harga BBM, akan menikmati hujatan dari anak bangsanya sendiri…!! Wallahu a’lam….

BENAR KATA PAK HARTO : BECIK KETITIK OLO KETORO
Orang yang melakukan kebaikan sebesar apapun tidak akan dilihat tapi ketika orang tersebut melakukan kesalahan sedikitpun akan kelihatan.dan diingat sepanjang masa.

Sebagai generasi mendatang tentunya kita menginginkan sesuatu, cerita atau bahkan sejarah tentang kebenaran tanpa didasari oleh kepentingan apapun…!!! Yang nantinya berdampak pada kebohongan publik…yaitu sejarah yang memang dilandasi oleh fakta tanpa ada muatan kebencian atau bahkan muatan apapun…..
Dengan adanya tulisan ini, bukan berarti penulis adalah pro Soeharto tetapi hanya bentuk keprihatinan anak bangsa yang MUAK dengan cerita-cerita yang tidak dilandasi oleh fakta dan terkesan dibuat-buat karena kebencian dan politis. Bukankah apa yang dituduhkan kepada Soekarno, Soeharto dan pemimpin lainnya belum terbukti sama sekali ……??????

Tulisan ini terinspirasi dari bukunya Retnowati Abdlgani-Knapp: Soeharto, The Life anda Legacy of Indonesia Second President.

* Penulis adalah generasi yang prihatin dengan cerita gombal yang tiada pangkal ujungnya

Read More......

KENAPA HARUS SOEHARTO? Sebuah Keprihatinan Generasi 21….

(Bagian 1)

Oleh: Zaim Mukaffi

Berbicara tentang Soeharto memang tiada akhir, pemimpin ini dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai pemimpin yang paling kontroversial sepanjang sejarah Negara ini. Kenapa kontroversial ? Karena selama masa kepemimpinannya Soeharto dianggap bertanggung jawab terhadap beberapa kasus baik kasus HAM maupun isu KKN yang melibatkan keluarga cendana dan kroni-kroninya (walaupun sampai saat ini belum ada yang membuktikan terhadap kasus-kasus tersebut)

Tanpa mengurangi rasa hormat dan keberpihakan terhadap satu diantara dua kelompok yang berbeda, tulisan kecil ini mencoba untuk melihat secara jernih kepemimpinan HM. Soeharto secara mendalam.

Kasus HAM
Selama masa kempemimpinan Soeharto kebebasan bersuara dan berpendapat nyaris adanya. Siapapun yang dianggap bertentangan dengan kebijakan nya akan mengalami persoalan yang serius. Dan memang itulah gaya kepemimpinan HM. Soeharto yang disesuaikan dengan kondisi saat itu.
Masih teringat kasus yang terjadi seperti Malari, Petisi 65, tanjung priok, kasus Semanggi 1 dan 2, serta isu kudeta militer yang dipimpin Soeharto (waktu masih menjabat KOSTRAD) terhadap Presiden Soekarno dan misteri Supersemar, merupakan sebagian dari kebijakan yang dianggap kontroversial pada masa kepemimpinan Soeharto.
Namun demikian dari beberapa kasus tersebut sampai sekarang nyaris tiada bukti yang menyatakan bahwa Soeharto terlibat secara langsung. Bagi kelompok yang pro cendana kasus tersebut bukan merupakan HAM berat karena kasus tersebut terjadi memang disebabkan oleh situasi politik yang tidak sehat pada masanya dan menyangkut masalah keamanan negara. Sedangkan bagi kelompok yang anti Soeharto (terutama korban) beranggapan bahwa kasus tersebut merupakan kejahatan HAM yang harus di usut sampai tuntas.
Bagi sebagaian masyarakat khususnya generasi pasca Soeharto, isu-isu tersebut dianggap basi dan tidak mendasar. Sebab kasus-kasus tersebut diungkap tanpa adanya penjelasan yang detail dari pihak pelapor dalam hal ini LSM maupun dari pihak korban. Contohnya apa yang diungkapkan oleh Fajrur rahman, dimana dia dan teman-temannya ditangkap oleh beberapa orang berambut cepak (yang dianggap militer) karena berdemo untuk menentang kebijakan Soeharto, kemudian kasus semanggi yang menewaskan 6 mahasiswa Trisakti yang ditembak oleh sniper-sniper karena menurunkan Soeharto dari kursi Presiden.
Perlu dipahami bahwa kasus-kasus yang diungkapkan oleh korban ke publik merupakan versi korban dan terkesan sepihak. Kiranya perlu kita bandingkan dengan apa yang diungkapkan oleh Emha Ainun Najib ketika rapat terbatas dengan Soeharto bersama dengan teman-temannya pada tanggal 19 Mei 1998, termasuk didalam rapat tersebut ada Gus Dur, Ali yafi dan lain-lain (SCTV, 28 Januari 2008) Emha mengatakan bahwa Soeharto akan turun dari jabatannya sebagai presiden asalkan setelah dia turun keamanan bangsa terjamin. Namun kenyataannya kasus di Jakarta dan diberbagai daerah kebrutalan masa dengan menjarah, memperkosa, bahkan membunuh orang-orang yang dianggap berlawanan masih terjadi dan bahkan bisa dibilang sangat parah. Tentunya Soeharto sebagai Pemimpin bangsa ini -dan saya yakin siapapun pemimpinnya- harus bertindak secara hati-hati dan preventif untuk menghentikan masa yang sudah brutal tadi dengan mengutus panglima TNI yang saat itu Jend. Wiranto untuk bertindak cepat. Akhirnya TNI dan Polisi bertindak dilapangan untuk menghentikan kebrutalan masa yang semakin parah. Dan akhirnya terjadi penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Permasalahannya bagaimana jika TNI dan Polisi tidak bertindak???? Sedangkan masa menjarah, membakar dan mahasiswa menggunakan batu dan bom molotof untuk melawan TNI dan Polisi (lihat/putar ulang kasus semanggi dan Jakarta pada Umumnya). Ini yang perlu dijawab oleh kelompok yang anti terhadap Soeharto.
Saya kira kasus-kasus yang lain dimasa Soeharto pun demikian. Maka dari itu obyektifitas dari kedua belah pihak harus tetap dijaga. Dalam artian bahwa jangan saling menyalahkan tapi harus intropeksi diri agar permasalahn cepat terjawab.
Kasus penangkapan aktivis, pembunuhan dan kasus HAM lainnya menurut penulis harus dijelaskan persoalannya secara jelas dan gamblang kepada publik, jangan sampai cerita lama tersebut hanya sepotong saja sehingga rancu dan terkesan menyalahkan pemerintah saja dan yang lebih menyedihkan akan mengubah sejarah yang sebenarnya.
Namun yang pasti sampai Sekarang HM. Soeharto sudah meninggal sedangkan kasus tersebut belum terbukti satupun dan bahkan tidak ada bukti satupun yang menyatakan Soeharto bersalah secara Hukum. Masihkah dianggapa sebagai kejahatan HAM. Wallahu a‘lam.
Tulisan ini sengaja ditulis, bukan berarti pro atau anti terhadap kelompok tertentu, tetapi dilandasi oleh rancunya informasi yang ada….dan hanya merupakan pendapat pribadi……………Bagi pihak yang tidak sepakat dengan tulisan ini tentunya dengan senang hati akan diterima sebagai tambahan referensi…

Bersambung…….


Read More......